kritik seni

BAB V

KRITIK SENI

  1. A. Kritik Seni

Kritik seni sebagai ilmu pengetahuan terdiri   atas kumpulan teori sebagai hasil pengkajian yang teliti oleh pakar estetika dan pakar teori seni. Pada dasarnya pengetahuan ini dikembangkan dari kenyataan di lapangan. Teori kritik seni mencangkup segala sesuatu yang berhubungan dengan persyaratan dan metodologi yang deperlukan dalam kegiatan mengapresiasi dan menilai karya seni. Pada prinsipnya ada dua pendekatan yang dilakukan untuk membangun teori kritik seni.

1)      Berakar pada pendekatan filsafat metafisis yang melahirkan tipe kritik yang bersifat dogmatis.

2)      Pendekatan empiric modern yang mengpergunakan data objektif sebagai bassis penilaian karya seni.

(Osborne, 1995)

Eksistensi kritik seni masih menjadi ajang perdebatan

(Dewey, 1980; Stolnizt, 1971)

Bahwa kritik seharusnya merupakan aktivitas evaluasi, karya seni adalah objek pengamatan estetik, kritik tidak perlu sampai pada penyimpulan nilai, penghakiman karena dengan deskripsi dan pembahasan yang lengkap sudah mencukupi bagi penangkapan makna estetis

(Aschner,dkk. dalam Bangun, 2001:3)

Kritik sebagai kajian rinci dan apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni. Aktivitas evaluasi kritik seni harus sampai pada pernyataan nilai baik dan buruk bahkan sampai penentuan kedudukan karya seni dalam konteks karya yang sejenis.

(Kuspit, 1994)

Aktivitas kritik merupakan seni tersendiri, artinya seorang kritikus adalah individu kreatif yang mengungkap makna seni.

Kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat para pakar adalah bahwa kritik seni adalah aktivitas pengkajian yang serius terhadap karya seni.

Tujuan kritik seni adalah evaluasi seni, apresiasi seni, dan pengembangan seni ke taraf yang lebih kreatif dan inovatif. Bagi masyarakat kritik seni berfungsi untuk memperluas wawasan seni. Bagi seniman kritik tampil sebagai ‘cambuk’ kreativitas. Suatu ketika kritik seni berperan memperkenalkan karakteristik seni baru. Kebangkitan seni modern, misalnya, sukar dipisahkan dari aktivitas kritik.

Dalam kritik seni sesungguhnya tedapat tiga asumsi terpenting, yakni:

1)      Kritik sebagai aktivitas apresiasi seni

2)      Kritik   sebagai aktivitas penghakiman

3)      Kritik sebagai aktivitas seni tersendiri

Dalam eksistensi kritik seni seperti yang diuraikan di atas, tampak peran kritik sangat vital menentukan perkembangan seni ditengah masyarakat, baik untuk seni tari, seni music, seni sastra, seni teater dan film, maupun untuk seni rupa.

 

 

  1. 1. Alat Kritik Seni

Tingkat kepakaran seorang kritikus menurut keahlian dan persyaratan tersendiri, sehingga bobot penilaian yang dilakukannya cukup meyakinkan bagi para pembaca.

Bekal atau perlengkapan yang harus dimiliki kritikus seni sehingga penilaiannya berbeda dengan orang kebanyakan, sebagai berikut:

1)      Seorang kritikus harus mempunyai cita rasa seni yang terbuka, artinya mempunyai kapasitas mengahargai kreativitas artistic yang sangat beragam. Mengapresiasikan dengan baik karaya seni yang eksis di berbagai tpat dan zaman.

2)      Seorang kritikus memerlukan studi formal di lembaga tinggi kesenian, khususnya tentang sejarah kesenian dan sejarah kebudayaan.

3)      Seorang kritikus harus berpengalaman mengamati dan menghayati seni secara orisinal, baik di studio, gedung pertunjukan, sanggar, maupun di museum. Pengalaman otentik ini diperlukan, sebab sukar dan mustahil mendapat pengalaman otentik dari slide, buku atau reproduksi karya seni belaka.

4)      Seorang kritikus harus mampu secara imajinatif merekapitulasi faktor teknik karya seni, sehingga mengetahui bagaimana proses pembuatan karya yang menjadi objek kritiknya.

5)      Seorang kritikus perlu mengetahui benar peristilahan seni, style seni, fungsi seni, opini penting para seniman dan pakar estetika secara periodic, disamping memahami konteks sosial dan kebudayaan yang melatar belakangi kreasi seorang seniman.

6)      Seorang kritikus harus paham betul pebedaan antara niat artistic dengan hasil atau penyampaian artistic, sehingga dia mampu meluhat senjangan antar keduanya. Niat, amanat, pernyataan, atau nilai yang ingin dekspresikan seniman tidak selalu persis terungkap dalam hasil kreasi seninya.

7)      Seorang kritikus harus mampu melawan bias atau simpati terhadap karya seniman tersebut yang dikenalnya secara pribadi. Sebaliknya, mampu pula secara ojektif dan penuh kearifan mengakuo keunggulan seorang seniman, meskipun seniman tersebut berbeda pendapat. Dengan kata lain perbedaan pendapat tidak mempengaruhi penilaian objektif seorang kritikus.

8)       Seorang kritikus harus harus memiliki kesadaran kritis. Hal ini berkaitan dengan karya seni yang berbeda itu. Sikap netral dan demokratis adalah basis kearifan penilaina seni.

9)      Seorang kritikus seni profesional harus memiliki temperamen judisial, dalam praktiknya ini berarti kemampuan menilai seni dengan cara yang tidak tergesa-gesa. Aktivitas menilai seni memerlukan bukti dan kesaksian akurat. Diperlukan waktu untuk mencerap berbagai kesan, asosiasi, sensasi, yang diberikan karya seni. Hal ini diperlukan agar kritikus dapat secara hati-hati dan cermat menganalisis dan manafsirkan nilai kerya seni dengan bujaksana dan cerdas.

 

 

  1. 2. Tipe Kritik Seni

Pada hakikatnya tipe kritik seni adalah suatu landasan kerja, prodedur, atau metode penilaina karya seni dilihat dari sudut pandang tertentu. Penggolongan tipe kritik seni ada kalanya didasarkan pada kriteria yang dipakai, di saat yang lain bedasaekan doktrin seni, dan adakalanya dari siapa yang menulisnya.

(Hosper, 1992: 44) Berdasarkan penggolongan tersebut dikenal istilah isolasionisme dan kontekstualisme.

(Herarti, 1984: 105-106) Breadsley dan Kemp memperkenalkan tipe kritik intensionalis. Golman membagi tipe kritik menjadi formalis dan kontekstual.

(Sudarmaji, 1979: 33-34) Gastel membagi tipe kritik menjadi tiga, yakni kritik klasik, kritik romantic, dan kritik impresionisme.

(Pepper, 1970) Membagi tipe kritik menjadi empat, yakni kritik mekanistik, kritik kontekstualis, kritik organic, dan kritik formisme.

(Feldman, 1967: 451-452) Memperkenalkan kritik jurnalistik, kritik pedagogic, kritik scholary, dan kritik popular.

(Stonizt, 1986: 7-10) Tipe kritik normative (by rules) kritik kontekstual, kritik impresionis, kritik intensionalis, dan kritik intrinsic.

(Wellek, 1964: 345-346) Membagi kecenderungan kritik seni abad ke-20 menjadi enam, yaitu kritik Marxis, kritik Psikoanalitik, kritik linguistic-stilistik, kritik neo organistik, kritik formalis, dan kritik formalis eksistensialis.

(Wilson, 1971:33-42) Menurut Weitz, struktur kriteria atau standarkritik seni mengacu pada teori seni yang terpenting dan berpengaruh dalam dunia seni, yakni konsep imitasionalisme, eksprtesionisme, emosionalisme, formalism, dan organisisme.

(Barret, 1994: 102-105) Pakar lain membedakan kriteria penilaian seni menjadi enam, yaitu realisme, ekspresionisme, formalism, instrumentalisme, originalitu dan craftsmanship.

Pada dasarnya kritik seni memiliki banyak persamaan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, tipe kritik formalism, intrinsic, dan isolasionisme sebenarnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama, meski istilahnyaberbeda. Demikian pula dengan kritik impresinistik dan mekanistik. Akan tetapi, bisa dipahami betapa besar usaha yang telah dilakukan untuk menemukan metode penilaian yang lebih tepat, lebih rasional, dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Pada kesempatan ini, tidak semua tipe kritik tersebut dibahas, tetapi akan dikemukakan tipe kritik versi Feldman yang meliputi:

  1. a. Kritik Jurnalistik

Tipe kritik ini ditulis untuk para pembaca surat kabar dan majalah. Tujuannya memberikan informasi tentang berbagai peristiwa dalam dunia kesenian. Isi dari kritik Jurnalistik berupa ulasan ringkasan dan jelas mengenai suatu pameran, pementasan, konser, atau jenis pertunjukan seni lain di tengah mesyarakat. Karakteristik utama kritik Jurnalistik adalah aspek pemberitahuan.

Kewajiban seorang kritikus jurnalistik adalah memuaskan rasa ingin tahu para pembaca yang beragam, di samping untuk menyampaikan fenomena keindahanyang menggugah rasa keindahan. Pada umumnya kritikus menghindari penulisan yang panjang, agar tidak menyita kolom pemberitaan secaraberlebihan. Majalah Time dan Tempo di Indonesia merupakan contoh media yang menerapkan tipe kritik jurnalistik dalam rubric kesenian mereka.

Berbeda dengan Jurnal Bulanan Seni (Eropa, Amerika, Australia) yang menyajikan kritik jurnalistik dengan konsep lain. Jurnal ini berisi kritik tajam kepada museum dan lembaga sosial yang gagal memberik dukungan kepada seniman favorit mereka. Pada umumnya kritik tersebut menyulut timbulnya persaingan dalam kehidupan seni kontemporer. Kritikus seni, seperti Hilton Kramer dan Frank Getlein, dengan mewawancarai pendukung Action Painting seperti Harols Rosenberg dan Thomas Hess menciptakan forum bebas pendapat tahun 1950-an. Pada saat perdebatan kritik nyaris tidak ada.

Karena seringnya kritik tipe ini ditulis dan waktu penulisan yang terbatas, maka informasi yang disampaikan memiliki resiko tidak akurat. Penarikan kesimpulan yang cepat dan analisis yang dangkal menyebabkan kritikus cenderung menyimpulkan interpretasi seninya, tanpa analisis dan pembuktian yang valid. Bagi seseorang yang cermat mengamati tipe  kritik jurnalistik, akan menyadari pengetahuan atau pemahaman kritikus hanya berisi sekumpulan opini tentang reputasi seni kontemporer yang sedang berkembang.

  1. b. Kritik Pedagogik

Kritik seni pedagogic diterapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar di lembaga pendidikan kesenian. Jenis kritik ini dikembangkan oleh para dosen dan guru kesenian, tujuannya terutama mengembangkan bakat dan potensi artistic-estetik peserta didik, agar memiliki kemampuan mengenali bakat dan potensinya.

Para pendidik seharusnya memahami standar nilai dunia seni professional dan mampu berperan sebagai seorang kritikus, meskipun standar dunia seni profesional tersebut tidak digunakan sebagai kriteria untuk menilai karya peserta didiknya. Satu hal yang sulit bagi seorang pendidik seni ialah keterlibatan kapasitas kritisnya dalam proses pengajaran. Dia harus sadar bahwa kegiatan menganalisis dan menafsirkan karya mahasiswa-siswi adalah untuk kemajuan dan kepentingan peserta didik itu sendiri. Kritikus pedagogik membimbing bagaimana proses menganalisis dan menafsirkan nilai seni dan memahami karakter seni yang dibuatnya.

Sejak karya seni memiliki implikasi sosial (seni dibuat untuk orang lain, untuk dimiliki, dipakai, atau dikagumi, maupun untuk dinikmati sendiri) maka para pendidik seni wajib merespon secara kritis peserta didiknya, mulai dari proses pembuatan karya seni sampai menyelesaikannya. Pada system pendidikan tradisional, penentuan selesainya sebuah karya ditentukan oleh dosen atau guru seni. Namun dalam system pendidikan modern penentuan selesainya sebuah karya seni merupakan hasil kerja sama antara dosen dengan mahasiswanya atau persetujuan antara guru seni dan muridnya.

 

  1. c. Kritik Ilmiah

Kritik ilmiah atau kritik akademi adalah istilah yang digunakan di Indonesia sebagai alih bahasa dari scholary criticism sebagaimana  disebutkan oleh Feldman. Kritik ilmiah biasanya melakukan pengkajian  nilai seni secara luas, mendalam, dan sistematis, baik dalam menganalisis maupun dalam  melakukan kaji banding kesejarahan critical judgment.

Penilaian kritik ilmiah sesungguhnya tidak bersifat mutlak, sama seperti pengetahuan lmiah lainnya, jenis kritik ini bersifat terbuka dan siap dikoreksi oleh siapa saja, demi penyempurnaan dan mencari nilai karya seni yang sebenarnya. Kritik seni ilmiah sama sekali tidak bermaksud mengilmiahkan seni, jenis kritik ini hanya meminjam sarana ilmiah untuk melakukan penilaian seni yang lebih akurat. Misalnya, menggunakan prosedur penelitian untuk mengumpulkan data yang lengkap, sebagai bukti konkret untuk melakukan penilaian yang logis, sehingga kesimpulan kritik yang dihasilkan dapat mengungkap makna seni berdasarkan bukti-bukti yang dikemukakan.

 

  1. d. Kritik Popular

Pada dasarnya implikasi kritik seni popular ditulis oleh sebagian besar penulis yang tidak menuntut keahlian kritis. Masyarakat akan terus membuat penilaian kritis, tanpa mempertimbangkan apakah penilaian yang mereka lakukan tepat atau tidak. Cita rasa seni yang bernilai adalah kesetiaan pada fakta realisme yang pembahasannya berhubungan dengan gaya akurasi objektif.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa seorang kritikus yang tidak mengenal metodologi penulisan kritik dengan sendirinya menjadi penganut teori mimetik. Mereka memandang objek seni dari objek rupanya. Hal ini berarti kritikus membentuk penilaiannya dengan mempertautkan pengalaman sendiri dengan karya seni yang diamatinya. Jadi criteria penilaian bergantung pada apa yang pernah dilihat, dialami, didengar atau dibaca, lalu dikaitkan dengan berbagai cara pada objek seni yang dikritiknya. Kelemahan cara seperti ini adalah berbaurnya persepsi masa lampau dengan persepsi masa kini. Proses kerja demikian  menunjukkan bahwa kritikus tidak meneliti pengalamannya secara sistematis, artinya kritikus tidak sungguh-sungguh mengamati karya seni yang menjadi objek kritiknya.

Jenis kritik ini berkembang diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Tipe kritik popular adalah suatu gejala umum dan kebanyakan dihasilkan oleh para kritikus yang tidak ahli, terutama dilihat dari aspek profesionalisme kritisme seni.

 

 

3.         Penyajian Kritik Seni

Penyajian kritik seni memiliki bentuk dan cara yang sistematis. Kritikus yang baik secara sadar memahami bentuk, proses, bahkan sistem yang digunakannya untuk mencapai kesimpulan kritiknya. Menurut Feldman (1967:469) dalam teori kritik seni dikenal empat tahap meliputi; deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi.

 

 

  1. a. Deskripsi

Deskripsi adalah suatu proses pengumpulan data karya seni yang tersaji langsung kepada pengamat. Dalam mendeskripsikan karya seni, kritikus dituntut menyajikan keterangan secara objektif yang bersumber pada fakta yang terdapat dalam karya seni. Kritikus sastra akan menguraikan karya sastra dan menguraikan proses pembuatan karya tersebut.

Dalam karya seni rupa, kritikus akan mengarahkan perhatiannya pada prinsip konfirmasi seperti warna, arah, bentuk, penggunaan baris, tekstur, volume, dan ruang. Dalam seni musik, kritikus mendata bagaimana penyajian sebuah konser, baik aransemen, vokal, dan instrumen musik yang dipakai untuk menyajikan sebuah pagelaran. Dalam seni tari, kritikus akan menguraikan bagaimana aspek penari, gerak, ekspresi, dan ilustrasi musik yang mengiringinya. Demikian pula seorang kritikus teater dan film yang akan menguraikan sinopsis, termasuk aspek tokoh, akting, dialog, dan penampilan aktor/aktris utama dan pemeran pembantu dalam sebuah pementasan teater atau pertunjukan film yang menjadi objek kritik.

Data ini diperlukan karena sifatnya bisa mempengaruhi persepsi kritikus dalam hal pemahaman dan penilaian kritisnya nanti. Dalam pembuatan deskripsi perlu dihindari interpretasi terhadap karya seni, kesan pribadi kritikus ketika mengamati karya seni bukan termasuk bagian dari deskripsi, jadi deskripsi berarti menguraikan fakta seni sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, tanpa tafsiran yang sifatnya ilusif dan imajinatif.

Disamping mendeskripsikan adegan, suasana, kritikus juga menerangkan pentas, tata cahaya, dan dekorasinya, sekaligus mengutip puisi yang dibacakan. Dengan teknik mendeskripsi seperti ini, tentu saja pembaca kritik mendapatkan informasi yang lengkap.

 

  1. b. Analisis

Pada tahap analisis, tugas kritikus adalah menguraikan kualitas elemen seni. Dalam karya seni rupa, kualitas tersebut terdapat pada garis, bentuk, warna, pencahayaan, penataan figur, lokasi, ruang, dan volume. Jika seorang kritikus musik memberikan penilaian terhadap seorang penyanyi, maka disamping ia menafsirkan nilai penampilan sang artis, dia juga menganalisis segi tekniknya, misalnya vokal, jangkauan suara, akting, kefasihan, dan kualitas bunyi yang diciptakan.

Ide seorang kritikus sangat penting dalam menganalisis karya seni. Hasil karya seni, selanjutnya akan menjadi fakta objektif bagi kritikus untuk menafsirkan makna seni. Hal ini penting dalam upaya menilai seni secara kritis. Pada dasarnya tahap analisis adalah mengkaji kualitas unsur pendukung subject matter yang telah dihimpun dalam data deskripsi.

 

  1. c. Interpretasi

Interpretasi dalam kritik seni adalah proses mengemukakan arti atau makna karya seni dari hasil deskripsi dan analisis yang cermat. Kegiatan ini tidak bermaksud menemukan nilai verbal yang setara dengan pengalaman yang diberikan karya seni. Juga bukan dimaksudkan sebagai proses penilaian.

Aktifitas interpretasi merupakan sebuah tantangan dan tentu saja merupakan bagian penting. Namun, dalam kegiatan ini kritikus tidak berada dalam posisi menilai, tetapi memutuskan apa makna seni, tema karya, masalah artistik, masalah intelektual karya seni, dan akhirnya menyimpulkan karya seni sebagai satu kesatuan yang utuh.

Dalam menafsirkan karya seni, kritikus bertolak dari data deskripsi dan analisis (yang telah dilakukan sebelumnya) untuk menghasilkan sebuah hipotesis tentang karya seni yang bersangkutan. Perlu asumsi yang melandasi dalam menginterpretasikan karya seni. Diasumsikan bahwa seni mempunyai kejelasan atau implikasi isi ideologis (bukan dalam arti politis). Diasumsikan pula bahwa objek seni adalah hasil karya manusia yang tidak bisa lepas dari aspek sistem nilai penciptanya. Karya seni tidak dapat dipisahkan dari wahana ide senimannya.

Seorang kritikus tidak tertarik secara khusus pada persoalan apakah ide dalam karya seni sesuai dengan pandangan senimannya (tidak ingin menerobos privacy seorang seniman) karena pandangan seorang seniman belum pasti terjelma dalam produk seninya. Dengan kata lain, kritikus tidak menggunakan seni untuk mendapatkan apa yang dipikirkan seniman, yang diperlukan adalah bagaimana mengamati objek seni dengan seksama, sehingga ditemukan ide yang sangat signifikan. Jadi, itulah fungsi seorang kritikus, menemukan gagasan apa yang terdapat pada sebuah karya seni, dan selanjutnya mengungkapkan apa maknanya.

Dari keterangan di atas, yang penting untuk kritik seni, bahwa seniman bukan pemegang otoritas dalam memaknai hasil karyanya. Para kritikus pada umumnya, sangat memperhatikan apa yang dikatakan seniman, menyimak dengan baik segala ungkapan seniman, tetapi kritikus akan menguji pernyataan tersebut pada karya seni yang dihasilkannya. Pernyataan seniman ditempatkan sebagai material yang perlu dikonfirmasikan dengan metode analisis dari interpretasi kritikus.

Bagi kritikus yang terbiasa mengamati karya naturalis dengan tema yang jelas, menafsirkan seni abstrak atau seni non-objektif mengalami kesulitan. Kesulitan ini diperkirakan menjadi alasan kuat bagi kritikus untuk berlindung pada pernyataan seniman, biografi dan pendapat rekan-rekannya untuk mengungkapkan misteri karyanya. Kemudian juga pengaruh teori kreatifitas artistik yang menganggap seniman mengetahui apa yang akan diekspresikan atau masalah apa yang akan dipecahkan.

Namun demikian, kritikus seharusnya tidak mencampuradukkan antara niat atau tujuan artistik dengan pencapaian artistik. Dengan kata lain, kebenaran sebuah pernyataan harus dapat diamati pada karya seni, jika tidak, maka kritikus dapat melihat terjadinya kesenjangan antara aspek konseptual dengan prestasi atau pencapaian artistik. Dalam mengamati seni kontemporer, kritikus mudah terpengaruh oleh reputasi seniman dan tulisan tentang karyanya. Namun dalam praktik penilaian kritis, hal tersebut  hanya digunakan sebagai pedoman dalam hal khusus jika diperlukan, akan tetapi makna seni dalam arti sesungguhnya kritikus yang menyimpulkannya.

Sesungguhnya kritik seni tidak berfungsi sebagai pengganti pengalaman estetis, mengungkap makna seni bukanlah berarti menemukan verbalisasi objek seni.

Dalam menafsirkan secara kritis karya seni kontemporer, kritikus berurusan dengan kualitas formal dan sensual objek seni. Kritikus menafsirkan dengan cermat dampak kualitas penghayatannya. Selama proses pembuatan deskripsi dan analisi, kritikus membicarakan elemen seni dan teknik pengorganisasiannya untuk mengarahkan perhatiannya langsung pada keaktualan objek seni.

Salah satu masalah sentral dalam estetika dan kritik seni adalah tidak ada jalan menghindari persepsi seni organisisme manusia. Variasi persepsi itu sendiri adalah sumber kegembiraan dan bagian dari kesenangan hidup. Kritikus dengan sadar dan penuh pertimbangan berusaha memformulasikan suatu penjelasan spesifik dari data tersebut. Isi deskripsi dan analisis dijadikan sebagai bukti dan kesaksian yang sangat berguna. Keterangan tersebut dengan sendirinya mensugestikan diri mewakili seni, meskipun tidak lengkap sebagai suatu karya seni yang utuh. Namun, dapat dipilih satu atau lebih data deskripsi dan analisis sebagai landasan pembentukan hipotesis, jika memang ada keterangan yang mengesankan.

Dalam kritik seni, tidak terlalu mementingkan apa penyebab kreasi sebuah objek seni. Namun lebih mengutamakan ide atau prinsip pengorganisasian yang memberikan efek tertentu pada kritikus. Sebagai penyebab timbulnya praduga, bahwa objek seni yang sama akan mempengaruhi individu secara berbeda.

Oleh karena itu, efek seni dan pengalaman estetik berada inside the skin of an observer, maka kritik seni mengembangkan suatu metode yang dapat memperkecil subjektifitas yang inherent dalam kritik seni. Dengan kata lain, karena kita tidak berhasil menelaah efek yang diberikan seni in side kita, tampaknya cara terbaik ialah menelaah pernyataan, observasi, dan persepsi yang telah dibuat seputar objek seni, yang ada diluar pribadi kita. Meskipun efek tersebut timbul pada diri kita, tetapi hal itu dapat diselidiki dengan teliti oleh tiap orang.

Untuk tujuan penafsiran dalam kritik seni, hipotesis adalah suatu ide atau prinsip organisasi yang berhubungan erat dengan materi deskripsi dan analisis.

  1. d. Evaluasi

Evaluasi karya seni dengan metode kritis berarti menetapkan rangking sebuah karya dalam hubungannya dengan karya lain yang sejenis, untuk menentukan kadar artistik dan faedah estetiknya. Dalam aktifitas ini dikenal model evaluasi dengan studi komparatif historis.

Pada bagian ini kritikus perlu mengenali dengan seksama sebanyak mungkin gaya artistik, aliran seni, pengaruh komunikasi dalam pertukaran artistik modern, perluasan lahan kreatifitas, serta keunikan karya seni (orisinilitas) dalam sejarah kesenian. Sehingga ia mampu melakukan kaji banding kesejahteraan dengan tepat, untuk mencari serangkaian makna dan kekuatan ekspresi karya seni yang menjadi objek kritik.

Penilaian orisinilitas adalah instrumen penilaian kritis yang menjelaskan ide karya, yakni dengan mengidentifikasikan masalah artistik yang akan dipecahkan, apa fungsi seni, ada tidaknya inovasi ekspresi artistik, dan akseleransi teknik artistiknya.

Penilaian teknik seni adalah mengukur kelogisan penggunaan materi dan instrumen seni dengan korelasinya dengan bentuk dan fungsi seni. Dalam konteks karya yang anti teknik, anti estetis, anti seni, dan karya-karya vulgar lainnya penilaian ditekankan pada aspek intelektualnya, yakni bobot ide yang menyertai karya seni tersebut. Sebab tanpa isi pikiran, sebuah karya tergolong tidak bermanfaat, karena tidak relevan dengan kehidupan dan kemanusiaan kita.

 

 

 

 

4. Jenis Penilaian Kritik Sastra

a. Pendekatan Formalistik

Kritik seni formalis mengasumsikan bahwa kehidupan seni memiliki dunianya sendiri. Artinya terlepas sama sekali dari realitas kehidupan keseharian yang kita alami. Clive Bell, tokoh kritikus formalis mempertentangkan metode kritisme formalis dengan teori seni imitasi yang menekankan pentingnya hubungan seni dengan pengalaman manusia di luar seni. Menurut pendapatnya art is to be art, must be independent and self suficient.

Kriteria kritik formalis untuk menentukan ekselensi karya seni adalah significant form, yakni kapasitas bentuk seni yang melahirkan emosi estetik bagi pengamat seni.

 

b. Pendekatan Ekspresivisme

Kritik seni ekpresivisme menentukan kadar keberhasilan seni atas kemampuannya membangkitkan emosi secara efektif, intensif, dan penuh gairah. Intensitas pengalaman mengandung makna, bahwa karya seni yang baik dapat menggetarkan perasaan yang lebih kuat daripada perasaan keseharian pada saat kita melihat relitas yang sama. Konsep ini berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkan kembali vitalitas dan spontanitas dalam karya seni.

Penganut kritik ekspresivisme dalam melakukan analisis seni, apresiasi dan penilaiannya memakai kriteria yang sama, yakni pengalaman induvidual seniman, seperti ekspresi diri, komunikasi emosi, dan pembahasan pengalaman estetik. Kehadiran ekspresivisme dalam dunia kesenian lebih dipertegas pada abad ke-19, antara lain dipelopori oleh Wosdsorth dan Shelly dalam puisi, Victor Hugo dalam seni teater, dan Gericault dan Delacroix dalam seni lukis.

Teori seni ekpresif memang menganggap karya seni sebagai ekpresi  perasaan manusia, yang didefinisikan oleh Benedetto Croce sebagai seni adalah ekpresi dari impresi. Cita dan citra ekpresivisme bertolak belakang dengan cita dan citra kritisme formalistik. Cita-cita formalistik memang lebih mengutamakan keindahan bentuk seni, sehingga aspek emosi manusia kutang diperhatikan. Sebaliknya ekpresivisme lebih meletakkan tekanan pada ekpresi pribadi.

 

c. Pendekatan Instrumentalistik

Para kritikus instrumentalis berpendapat bahwa kreasi artistik tidak terletak pada kemampuan seniman untuk mengelolah material seni ataupun pada masalah internal karya seni.

Dapat dikatakan bahwa teori seni instrumentalistik menganggap seni sebagai sarana untuk memajukan dan mengembangkan tujuan moral, agama, politik, dan berbagai tujuan psikologis dalam kesenian. Seni dipandang sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tertentu, nilai seni terletak pada manfaat dan kegunaannya bagi masyarakat.

Salah satu hal yang menyulitkan penafsiran seni instrumentalis dalam sejarah kesenian adalah kenyataan bahwa seni dapat dikagumi dengan alasan yang berbeda. Motivasi lain seni instrumentalis adalah adanya dukungan terus-menerus dari donatur, baik dari lembaga, yayasan, maupun donatur perorangan. Tidak ada bukti bahwa para sponsor dan donatur ikut mempengaruhi kualitas seni yang diciptakan seniman. Pada dasarnya teori instrumentalis mendapatkan motivasi dengan jalan melayani kebutuhan sponsornya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

BEHAVIORISTIK

BEHAVIORISTIK

OKHE PUJI PRATIWI

2915086705

JYAKARUTA KOKURITSU DAIGAKU

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan teori dan praktik pendidikan dipengaruhi oleh aliran filsafat pendidikan. Beberapa aliran filsafat pendidikan yang dapat diaplikasikan dalam system pembelajaran adalah teori behavioristik, teori kognitif, dan teori konstruktivisme.
Dua aliran filsafat pendidikan yang memengaruhi arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dewasa ini adalah aliran behavioristik dan kognitif-konstruktivistik. Aliran behavioristik menekankan terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar, sedangkan aliran kognitif-konstruktivistik lebih menekankan pembentukan perilaku internal yang sangat memengaruhi perilaku yang tampak itu.
Teori behavioristik dengan model hubungan Stimulus-Response (S-R) mendudukkan pebelajar pada posisi pasif. Respon (perilaku) tertentu dapat dibentuk karena dikondisikan dengan cara tertentu, menggunakan metode drill (pembiasaan) semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement (dorongan), dan akan menghilang bila dikenakan hukuman. Hubungan S-R, individu pasif, perilaku yang tampak, pembentukan perilaku dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman merupakan unsur-unsur terpenting dalam teori behavioristik.
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks. Selain itu pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.

  1. B. Pembatasan Masalah

Materi dalam makalah ini dibatasi hanya untuk mengetahui tentang teori belajar behavioristik dan penerapannya. Jadi tidak semua teori-teori belajar dibahas di makalah ini.

  1. C. Rumusan Masalah

“Apakah teori belajar behavioristik dapat memaksimalkan pebelajar menerima pelajaran yang diberikan pengajar?”

  1. D. Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun agar pengajar tahu apa teori belajar behavioristik itu dan dapat menerepkannya dalam proses belajar mengajar. Juga mempertimbangkan apakah teori behavioristik ini fliksibel dan mudah di terapkan  untuk pebelajar.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Teori Belajar Behavioristik

  1. 1. Pengertian Teori belajar behavioristik

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Teori belajar atau tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu control instrumental yang berasal dari lingkungan.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon)..

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

  1. 2. Prinsip, ciri-ciri

Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi:

  1. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
  2. Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo(pura-pura) problem untuk sciene(pengetahuan yang di peroleh daripengalaman), harus dihindari.
  3. Penganjur utama adalah Watson : overt (terang-terangan), observable(mudah diikuti) behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
  4. Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
  5. Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
  6. Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

Psikologi ini bersifat molecular atau unsuriah, karena memandang kehidupan indibidu manusia terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Ada beberapa ciri dari psikologi ini, yaitu: (1) mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan reaksi atau respons, (5) menekankan pentingnya latihan. (6) mementingkan masa lalu.

Dalam Psikologi behavioristik ada tiga teori belajar, yaitu:

  1. Psikologi Asosiasi (koneksionisme)

Psikologi asosiasi merupakan tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan antara rangsangan dengan jawaban, atau stimulus-respons. Belajar adalah hubungan stimulus-respons sebanyak-banyaknya. Pembentukan hubungan stimulus-respons dilakukan melalui ulangan-ulangan atau latihan. Tokoh yang terkenal dari teori ini adalah Theorndike. Menurut dia, belajar pada binatang yang juga berlaku bagi manusia adalah trial and error, atau belajar coba-coba.

  1. Psikologi Conditioning

Psikologi conditioning merupakan perkembangan lebih lanjut dari psikologi asosiasi atau koneksionisme. Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.  Mengajar menurut teori ini adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Pembiasaan ini tidak perlu selalu oleh stimulus uang sesungguhnya, tetapi bisa juga oleh stimulus penyerta.

Teori ini dilatar belakangi oleh percobaan Pavlov dengan keluarnya air liur anjing apabila mencium atau melihat bau makanan. Hasil dari penelitian ini ternyata dapat diterapkan pada manusi, seperti para siswa berbaris dan masuk kelas kalau lonceng berbunyi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku individu manusia dapat dikondisikan.

  1. Psikologi Penguatan (operant conditioning)

Psikologi penguatan merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme dan conditioning. Kalau pada conditioning  yang diberi kondisi adalah stimulusnya, sedangkan pada teori penguatan yang dikondisi atau yang diperkuat adalah resposnya. Seorang anak belajar sungguh-sungguh dengan demikian pada waktu ulangan dia dapat menjawab semua soal dengan benar. Atas hasil belajarnya yang baik itu dia mendapatkan nilai yang baik ini, maka anak belajat lebih giat lagi. Nilai dapat merupakan operant conditioning atau penguatan (reinforcement). Tokoh utama operant conditioning adalah Skiner. Bertolak dari tori tersebut Sinner mengembangkan suatu program pengajaran yang terkenal dengan nama penajaran berprogram atau programmed instruction. Dalam pengajaran berprogram, bahan ajaran tersusun dalam potpongan bahan yang kecil-kecil, dan disajikan dalam bentuk informasi dan Tanya-jawab.

3.      Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran

Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.

Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.

4.       Analisis Tentang Teori Behavioristik

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).

Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.

Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.

Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.

Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.

Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.

Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:

  1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
  2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
  3. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.

B. Hakikat Belajar Teori Behavioristik

Pemahaman yang baik tentang teori belajar behavioristik akan dapat membantu kita untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran secara lebih sistematsi dan ilmiah – berdasarkan kaidah ilmu, yaitu teori belajar behavioristik.

Teori belajar behavioristik lahir sebagai upaya untuk menyempurnakan dua perspektif yang telah berlaku di awal abad 20, yaitu perspektif strukturalis dari Wundt dan psikologi fungsionalis dari Dewey.

Perspektif strukturalis percaya akan perlunya penelitian dasar mempelajari tentang otak manusia. Oleh karenanya, kaum strukturalis tidak percaya pada penelitian-penelitian aplikatif yang menggunakan binatang untuk di rampatkan kepada manusia, terutama tentang cara kerja otak manusia. Para strukturalis kemudian menggunakan alat ”instropeksi”-laporan diri (self-report) tentang proses berpikir sebagai cara untuk mempelajari kerja otak manusia. Namun alat tersebut dikritik oleh banyak kalangan karena menghasilkan data dan informasi yang sama sekali tidak konsisten sehingga tidak dapat dipercaya.

Jika perspektif strukturalis cenderung berwawasan sangat sempit (mikro) maka psikologi fungsionalis sebaliknya berwawasan sangat luas (makro). Dalam keluasannya ini, para ahli psikologi fungsionalis menyatakan perlu adanya kajian tentang perilaku, selain kajian tentang fungsi proses mental, dan hubungan antara proses mental dan tubuh manusia. Namun demikian, justru dengan keluasannya ini, psikologi fungsionalis dirasakan menjadi kurang fokus dan tidak terorganisasi dengan baik.

Berangkat dari keterbatasan perspektif strukturalis dan psikologi fungsionalis, John B. Watson memulai upayanya untuk mengkaji perilaku, terlepas dari proses mental dan lain-lain. Watson percaya bahwa, semua makluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungannya melalui respons. Asumsi inilah yang menjadi landasan dasar dari teori belajar behaviorisme selanjutnya.

Sebenarnya, sebelum watson, Ivan Pavlov (ahli psikologi dari Rusia) sudah memulai usaha untuk mengkaji perilaku, walaupun tidak secara ekspisit. Teori Pavlov dikenal dengan nama Classical Conditioning. Classical Conditioning kemudian digunakan oleh Watson dalam kajiannya terhadap perilaku bayi manusia. Tokoh lain yang juga memulai kajian perilaku sebelum Watson adalah Thorndike, dengan teorinya yang di kenal sebagai teori Connectionism.

1. Teori Belajar , Tingkah laku dan penerapannya

Penerapan teori-teori belajar Pavlov, Thotndike, Watson, dan Skinner.

Konsep stimulus (Pavlov, Thorndike, Watson) diterapkan dalam proses pembelajaran dalam bentuk penyajian materi. Sementara itu, konsep respons diterapkan dalam bentuk jawaban siswa terhadap soal-soal tes dan atau ujian setelah materi di sajikan, atau hasil karya siswa setelah prosedur pembuatan karya di sampaikan. Proses pengkondisian atau interaksi antara stimulus dan respons (Pavlov) diterapkan dalam bentuk pemunculan stimulus yang bervariasi, baik stimulus tunggal, ganda, maupun kombinasi stimulus (parampatan dan atau diskriminasi stimulus- Pavlov). Misalnya, penyajian materi melalui uraian (ceramah) dan contoh seperti : diskusi, penemuan kembali, kerja laboratorium, permainan dengan menggunakan media tunggal maupun beragam media (papan tulis, OHT, video, konputer, dll). Hasil penelitian di dunia pembelajaran menyatakan bahwa penggunaan media yang beragam (dua atau lebih) secara variatif menghasilkan dampak positif yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran dari pada media tunggal secara terus menerus. Selain itu , proses pengkondisian yang melibatkan (Thorndike) yang di terapkan dalam bentuk pujian dan atau hukuman guru terhadap siswa serta penilaian guru terhadap hasil kerja siswa. Kreativitas guru dalam memanipulasi (Watson) membantu siswa secara positif dalam proses pembelajaran.

a. Menurut E.L Thorndike : The Law of Effect

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu ineraksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari defenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.

b. Menurut Ivan Pavlov : Classical Conditioning

Teori ini dilatar belakangi oleh percobaan Pavlov dengan keluarnya air liur anjing apabila mencium atau melihat bau makanan. Hasil dari penelitian ini ternyata dapat diterapkan pada manusi, seperti para siswa berbaris dan masuk kelas kalau lonceng berbunyi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku individu manusia dapat dikondisikan.

c. Menurut J.B Watson : Conditioning Relect

Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan.

d. Menurut B.F Skinner  : Operant Condinitioning

Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.

2. Motivasi dan Keterampilan Mengajar

Apakah seseorang menjadi guru hanya karena pekerjaan lain yang di minati tidak ada, atau menjadi guru karena ingin menjadi pegawai negri yang nantinya akan mendapat pensiun, atau memang ingin menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi perkembangan generasi muda? Semua itu pasti akan mewarnai tingkah laku guru, entah disadari atau tidak. Misalnya guru akan menyumbangkan pikiran dan tenagannya, akan memandang pekerjaannya sebagai suatu kepuasan pribadi, akan menciptakan sesuatu yang menyenangkan, dan akan berusaha terus untuk meningkatkan bagaimana siswa-siswanya supaya bisa berkembang semaksimal mungkin. Semua ini akan tercetus dalam kata-kata dan tingkah lakunya.

Kata motivasi di gunakan untuk menggambarkan suatu dorongan, kebutuhan atau keinginan untuk melakukan sesuatu yang khusus atau umum. Seseorang dapat melakukan sesuatu yang khusus atau umum. Seseorang dapat di motivasi untuk makan jika belum makan selama 16 jam, untuk menonton bioskop yang memutar film yang mendapatkan Piala Oscar hari ini, dan untuk mendapatkan nilai bahasa inggris yang lebih baik pada semester yang akan datang. Dengan kata lain, kata motivasi dapat di terapkan pada tingkah laku dalam berbagai situasi.

Salah satu kegunaan konsep motivasi adalah menggambarkan kecendrungan umum seseorang dalam usahanya mencapai tujuan tertentu. Motivasi sering dilihat sebagai sifat-sifat kepribadian seseorang yang relatif stabil. Beberapa orang di motivasi untuk berprestasi, beberapa orang di motivasi untuk bekerja sama dengan orang lain, dan mereka mengekspresikan motivasi-motivasi ini dalam banyak cara yang berbeda-beda. Motivasi sebagai suatu sifat yang stabil adalah suatu konsep yang berbeda denagn motivasi untuk melakukan sesuatu yang spesifik atau khusus dalam situasi tertentu. Contoh, siapa saja di motivasi untuk makan tanpa ada makanan dan baru ada makanan setelah menunggu lama (motivasi situasi). Beberapa orang pada umumnya berminat untuk makan setelah makanan tersedia, sedangkan yang lain tidak (motivasi sebagai sifat-sifat pribadi). Ini tidak berarti bahwa motivasi situasi dan motivasi kepribadian tidak ada hubungannya. Motivasi sebagai suatu sifat kepribadian adalah suatu hasil yang besar dari sejarah reinforcement seseorang.

Jika anak di puji oleh orang tua dan guru mereka karena menunjukan minat yang besar pada hal-hal di sekitarnya, seperti banyak membaca dan menyukainya (karena diperkuat oleh orang tua mereka dan guru-guru mereka, dan oleh isi buku itu sendiri), maka dia akan mengembangkan suatu ”cinta belajar” sebagai sifat-sifat pribadi pada umumnya. Dia akan membaca dan belajar terus bahkan tanpa diperkuat (di-reinforced) oleh siapa pun dan biasanya akan sukses di sekolah. Bagaimanapun, sifat kepribadian ini adalah hasil dari suatu sejarah motivasi situsional yang panjang dalam belajar. Apakah ini secara tidak langsung menyatakan bahwa seorang anak gagal untuk mengembangkan cinta belajar sebagai sifat pribadi kerena sejarah reinforcement mereka sedikit berbeda dengan anak yang tumbuh dalam keluarga yang menyediakan segala fasilitas untuk membuat anak menjadi cinta belajar ? contoh, banyak anak dari keluarga di mana belajar bukan merupakan tuntutan yang tinggi dan dimana orang tua tidak suka membaca dan tidak mengembangkan cinta belajar, akan seperti anak-anak dari keluarga yang berprestasi dan yang berorientasi pada buku-buku bacaan. Pengalamana guru-guru menunjukkan bahwa anakyang tidak suka membaca biasanya pada waktu kecil tidak di dorang untuk membaca oleh orang tuanya . jadi, jika kita berbicara tentang motivasi sebagai suatu sifat kepribadian, makan penting untuk diingat bahwa ini tidak berarti stabil. Pada umumnya, motivasi tidak dapat diubah karena motivasi-motivasi ini cenderung konstan melalui berbagai situasi dan sulit untuk berubah dalam waktu yang pendek. Jelasnya, motivasi ini dapat berubah tetapi sulit. Selanjutnya, bagaimana hubungan motivasi dan prestasi.

Pada tahun 1953, David C.M. McClelland dan teman-temannya menerbitkan buku yang berjudul The Achievement Motive. Menurut buku ini, ada beberapa orang yang berambisi dan bekerja keras untuk mencapai sukses. Beberapa orang ahli menginterprestasikan bahwa ambisi dalam situasai yang wajar dapat dihubungkan dengan bertujuan mencapai prestasi. Sebaliknya, ada juga beberapa orang yang tidak berambisi untuk mencapai sukses dan bekerja semampunya.

McClelland menggambarkan empat prinsip motif yang di ekspresikan oleh orang yang berbeda dalam Thematic Apperception Test berisi sejumlah gambar seri yang melukiskan berbagai situasi. Orang yang mengambil tes tersebut diharapkan dapat menceritakan sesuatu berdasarkan gambar-gambar yang tercantum dalam tes. Cerita orang yang mengambil tes tersebut kemudian di analisis dengan tujuan untuk mengetahui harapan-harapannya, kelakuannya, motif-motifnya, dan masalah-masalah yang dihadapi oleh orang tersebut.

Empat rangkaian pertanyaan berikut disampaikan kepada testee.

  1. Apa yang sedang terjadi ? siapa saja orang-orangnya ?
  1. Hal-hal apa saja yang terjadi, sehingga sampai pada situasi ini ? apa yang telah terjadi pada waktu yang lalu ?
  2. Apa yang sedang di pikirkan ? apa yang di inginkan ? oleh siapa ?
  3. Apa yang akan terjadi ? apa yang akan di lakukan ?

Smith dan Field membuat petunjuk menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah contoh ,

”Pada suatu malam anak laki-laki sedang bermimpi bahwa dia telah menyelesaikan pelajarnnya dan menjadi dokter yang terkenal. Dia mungkin menggambarkan seseorang yang sudah siap untuk mengadakan penelitian tentang sebab-sebab penyakit. Dia di tanya oleh ayahnya atau temannya, apa yang ingin dia lakukan jika dia dewasa? Dia menjawab kepada mereka tentang gambaran cita-citannya yang akan dia pikirkan sampai dia berumur 30 tahun. Dia berfikir tentang pengalamannya yang sangat mendebarkan hati ketika sebagi dokter, sedang melakukan pembedahan untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Dan akhirnya , dari mimpi itulah ia termotivasi untuk menggapai mimpinya tersebut , kini anak laki-laki tersebut menjadi dokter yang terkenal di dunia.”

Dari contoh cerita di atas dapat di simpulkan bahwa, cita-cita dapat termotivasai dari segi apapun, baik alam nyata maupun alam mimpi, semua itu tergantung dari keinginan kita dan usaha kita ingin berusaha mewujudkannya atau pun tidak. Sifat cerita ini merupakan sesuatu yang unik, misalnya, penemuan-penemuan lain, yang tentu saja mengandung kreasi artistik dan prestasi-prestasi lain dengan keterlibatan yang lebih dalam mengenai tujuan prestasi, sukses dalam hidup, dan ini merupakan contoh prestasi yang memerlukan persaingan yang kuat.

Menurut McClelland dan Atkinson (1948) , Motivasi yang paling penting untuk psikologi pendidikan adalah motivasi berprestasi, dimana seseorang cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau meilih suatu kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses atau gagal. Contoh, untuk memilih teman kerja yang cocok dalam melakukan tugas yang sulit, siswa-siswa yang termotivasi untuk berprestasi cenderung memilik teman yang baik dan rajin dalam melakukan tugas. Sedangkan siswa-siswa yang termotivasi suka bergabung atau mengekspresikan kebutuhannya untuk dicintai dan diterima, barangkali lebih memilih teman yang bersahabat dan penuh kehangatan. Siswa-siswa yang termotivasi untuk berprestasi akan tetap melakukan tugas lebih lama dari pada siswa-siswa yang kurang berprestasi, bahkan sesudah mereka mengalami kegagalan, dan menghubungkan kegagalannya dengan tidak atau kurang berusaha. Siswa yang termotivasi untuk mencapai prestasi ingin dan mengharapkan sukses. Dan jika mereka gagal, mereka akan berusaha keras sampai sukses. Sebaliknya, siswa yang tidak mengalami sukses dalam berprestasi akan cenderung kehilangan motivasi, dan mungkin akan mengalihkan minat mereka pasa kegiatan apa saja (mungkin pada gerakan sosial, olahraga, bahkan mengacu pada kegiatan yang mungkin lebih sukses).

3.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1.   Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2.   Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar

jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara

terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

  1. Perhatian

Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

  1. Pengamatan

Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

  1. Ingatan

Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima  kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

  1. Berfikir

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

  1. Motif

Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

4. Kelemahan dan Kelebihan Teori Belajar Behavioristik

Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya.

Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori belajar atau tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh reward (ganjaran) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya.

B. Saran

Perilaku atau behavior dari peserta didik dan pendidik merupakan masalah yang sangat penting di dalam psikologi pendidikan. Jadi, diharapkan bagi para pendidik dapat menguasai atau memahami sesuatu dari para peserta didik. Pendidik juga harus mampu mendewasakan perilaku para peserta didik.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bila cinta memanggil ku ke arahnya, apa yang harus ku perbuat dengan nya. Bila cinta memilih kasih dibandingkan kisah apa yang harus ku lakukan. Bila cinta memilih menunggu kasih dari pada kisah. Haruskah kisah berakhir tanpa kesan di hati cinta. Kisah dan kasih terhubung benang tipis yang tak akan putus oleh waktu. Tak akan usang oleh keadaan dan tak akan hilang dengan perputaran bumi pada porosnya. Cinta menunggu kasih sedangkan kisah menunggu cinta. Kasih telah memiliki dambaan lain. Apakah cinta masih mau menunggu kasih? Kisah tetap ada untuk cinta dan menunggu tanpa cahaya di belakang cinta.
Bila cinta memanggil ku  untuk bersamanya. Kisah akan  menyandar di pundaknya menyerahkan sang waktu untuk cinta. Kesetiaan datang menyambut cinta dari kisah. Kesempurnaan akan mendekap cinta dari kisah. Namun, semua itu diilhami imajinasi. Kisah tetaplah kisah dan cinta tetaplah cinta yang menanti kasih untuk mendampinginya.
By. Ocean
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

tanpa judul

Waktu matahari pagi menyentuh wajah ku

Kerip mataku bertanda masih dalam mimpi

Terbisik suara lembut dari sebercah cahaya itu

“Sayang sudah pagi, lekaslah bangun”, ternyata suara bidadari pagi ku…

Lekas merapihkan tempat tidur ku

Air hangat dengan lembut membasahi tubuh ku

Tangannya yang hangat menyentuh tubuhku yang rapuh

Dibalutnya ku dengan selembar kain yang penuh cinta dan kasih sayang

Diberikannya aku tepungterigu yang harum

Dibopongnya aku….

Suara gemuruh ada di mana-mana

Bising suara ini merusak pagi ku

Namun, bidadari ku ini terlihat sangat lelah

Berjalan sangat jauh, melakukan apa yang seharusnya ku lakukan

Aku ingin sekali membantunya

Apa daya ku hanya mampu terdiam di tempat yang hangat ini

Apa pun yang membuatku tak nyaman ia slalu mengubahnya menjadi nyaman untuk ku

Betapa ku sangat berterima kasih pada nya

Aku berjanji bila aku beranjak dewasa dan sudah dapat melakukan apa pun sendiri aku akan membuat mu bahagia ibu ku,,,,,

By. Ocean

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar